HADIS BERDASARKAN TEMPAT PENYANDARANNYA
Hadis Qudsi
1. Pengertian
Kata quds secara etimologi berarti suci, menyucikan Allah swt, atau yang disandarkan kepada kesucian. Sedangkan dalam terminologi ilmu hadis, hadis qudsi adalah hadis yang oleh Rasulullah saw disandarkan kepada Allah swt. Maksudnya Rasulullah saw meriwayatkan bahwa itu kalam Allah swt. Atau dengan kata lain, hadis qudsi adalah hadis yang maknanya dari Allah swt tetapi redaksinya berasal dari nabi Muhammad saw, dengan perantaraan ilham atau mimpian. Maka rasul menjadi rawi kalam Allah swt ini dari lafadz beliau sendiri.
Dalam definisi lain dijelaskan hadis qudsi adalah hadis yang dalam matannya ada omongan yang disandarkan kepada Allah swt. Hadis qudsi sama dengan hadis-hadis yang lain tentang keadaan sanad dan rawi-rawinya, ada yang shahih, hasan dan juga ada yang derajat sanadnya dhaif.
Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah saw dengan disandarkan kepada Allah swt, dengan mengatakan, ”Rasulullah saw mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya”, atau ia mengatakan, ”Rasulullah saw mengatakan Allah swt telah berfirman atau berfirman Allah swt.”
Hadis qudsi disebut juga hadis illahi, atau hadis rabbani. Menurut penelitian, hadis qudsi ini berjumlah kurang lebih 833 buah hadis yang dikategorikan dalam shahih, hasan, atau dhaif.
2. Contoh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (البخريّ ومسلم)
“Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda, telah berfirman Allah ‘azza wa Jalla, “Berdermalah, niscaya Aku akan balas derma atasmu” (Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut dari Nabi saw, tetapi matannya bersifat firman Allah atau disandarkan kepada Allah swt. Oleh karenaya, hadis tersebut dinamakan hadis qudsi.
Hadis tersebut sanad dan matannya shahih, karena rawi-rawinya tidak ada yang lemah, dan isinya tidak bertentangan dengan keterangan yang lain.
B. Hadis Marfu’
1. Pengertian
Marfu’ artinya yang diangkat, yang dimajukan, yang diambil, yang dirangkaikan, dan yang disampaikan. Dalam terminologi ilmu hadis, marfu’ artinya sabda, perbuatan, takrir, atau sifat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw.
Dalam definisi lain dinyatakan hadis marfu’ adalah adalah hadis yang khusus disandarkan kepada Nabi saw berupa perkataan, perbuatan atau takrir beliau; baik yang menyandarkannya sahabat, tabi’in atau yang lain; baik sanad hadis itu bersambung atau terputus.
Menurut definisi yang kedua tersebut dapat dipahami bahwa hadis marfu itu ada yang sanadnya bersambung, ada pula yang terputus. Dalam hadis marfu ini tidak dipersoalkan apakah ia memiliki sanad dan matan yang baik atau sebaliknya. Jika sanadnya bersambung, dapat dinamakan hadis shahih atau hasan, berdasarkan derajat kedhabitan dan keadilan rawi. Jika sanadnya terputus, hadis tersebut disebut hadis dhaif mengikuti macam-macam putusnya rawi.
Hadis marfu’ ada dua macam; tashrihah dan hukman:
a. Tashrihah, dengan terang. Maksudnya adalah hadis yang isinya terang-terangan menunjukkan marfu’. Yang terang atau jelas seperti ini juga disebut juga marfu’ hakiki.
b. Hukman, pada hukum. Maksudnya adalah hadis yang isinya tidak terang menunjukkan marfu tetapi dihukumi marfu’ karena bersandar kepada beberapa tanda.
Oleh karena unsur hadis itu dapat berupa perkataan, perbuatan, maupun takrir Nabi, maka apa yang disandarkan kepada Nabi itupun dapat diklasifikasikan menjadi marfu’ qauli, marfu’ fi’li dan marfu’ takriri. Dari ketiga macam hadis marfu tersebut ada yang jelas – dengan mudah dikenal – rafanya, dan adapula yang tidak jelas rafanya.
2. Contoh-contoh Hadis Marfu’
a. Marfu’ Qauli Hakiki
Ialah apa yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi tentang sabdanya, bukan perbuatannya atau iqrarnya, yang dikatakan dengan tegas bahwa nabi bersabda. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan lafadz qauliyah:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول …… كذا
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ……… begini”
Contohnya seperti hadis nabi:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً (متفق عليه)
“Warta dari Ibn Umar r a, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Shalat jama’ah itu lebih afdhal dua puluh tujuh tingkat dari pada shalat sendirian” ( HR Bukhari dan Muslim)
b. Marfu’ Qauli Hukmi
Ialah hadis marfu yang tidak tegas penyandaran sahabat terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantaran qarinah (tanda) yang lain, bahwa apa yang disandarkan sahabat itu berasal dari sabda nabi. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan kalimat :
أمرنا بكذا ……. نهينا عن كذا
“Aku diperintah begini…., aku dicegah begitu……”
Contohnya :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ اْلأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ (متفق عليه)
“Bilal r.a. diperintah menggenapknan adzan dan mengganjilkan iqamah” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Pada contoh di atas hadis tersebut dihukumkan marfu’ dan karenanya hadis yang demikian itu dapat dibuat hujjah. Sebab pada hakikatnya si pemberi perintah iu tidak lain kecuali Nabi saw.
c. Marfu’ Fi’li Hakiki
Adalah apabila pemberitaan sahabat itu dengan tegas menjelaskan perbuatan Rasulullah saw.
Contohnya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلاَةِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ (البخاري)
“Warta dari ‘Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendo’a pada waktu shalat, ujarnya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang” (HR Bukhari)
d. Marfu’ Fi’li Hukmi
Ialah perbuatan sahabat yang dilakukan pada zaman Rasulullah saw dengan mengetahui atau mendapat bayangan perbuatan tersebut dari beliau saw.
Contoh:
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَأْكُلُ لُحُومَ الْخَيْلِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (النسائي)
“Jabir r.a. berkata : Konon kami makan daging Kuda pada waktu Rasulullah saw masih hidup” (an-Nasai)
e. Marfu’ Takriri Hakiki
Ialah tindakan sahabat di hadapan Rasulullah dengan tiada memperoleh reaksi, baik reaksi itu positif maupun negatif dari beliau saw.
Contoh:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قال: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَكَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. (مسلم)
“Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: kami pernah shalat dua rekaat sesudah terbenam matahari, sedang nabi melihat kami, tetapi beliau tidak memerintah dan tidak pula melarang kami.” (Muslim)
f. Marfu’ Takriri Hukmi
Ialah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina, atau minas Sunnati.
Contoh:
عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ لاَ تُلَبِّسُوا عَلَيْنَا سُنَّةَ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أبوداود)
“Dari Amr bin al-‘Ash berkata (kepada ummul walad): “Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah nabi kami.” (Abu Dawud)
C. Hadis Mauquf
1. Pengertian
Secara etimologi mauquf artinya yang terhenti. Sedang secara terminologi hadis mauquf adalah perkataan, perbuatan, atau takrir yang disandarkan kepada sahabat nabi saw.
Dalam definisi lain dijelaskan bahwa hadis mauquf adalah:
ما قصر على الصحابىّ قولا او فعلا متّصلا كان او منقطعا
“Apa-apa yang disandarkan sampai kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung maupun terputus”
2. Contoh-contoh Hadis Mauquf
Dari definisi tentang hadis mauquf tersebut, klasifikasi hadis dapat berupa perkataan, perbuatan atau takrir. Untuk lebih dapat membantu pemahaman kita tentang hadis mauquf, berikut contoh-contohnya.
Contoh perkataan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: لاَ يُقَلِّدَنَّ اَحَدُكُمْ دِيْنَهُ رَجُلاً، فَاِنْ اَمَنَ اَمَنَ، وَاِنْ كَفَرَكَفَرَ...(رواه ابونعيم)
“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Janganlah hendaknya seseorang dari kamu taqlid agamanya dari orang, karena kalau orang ini beriman, ia juga turut beriman; tetapi kalau orang itu kufur, iapun ikut kufur.” (HR. Abu Nu’aim)
Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Nabi saw. Riwayat di atas jelas menunjukkan perkataan Abdullah bin Mas’ud, karenanya hadis yang seperti ini dinamakan hadis mauquf.
Contoh perbuatan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: خَيَّرَ عُمَرُ غُلاَمًابَيْنَ اَبِيْهِ وَاُمِّهِ فَاخْتَارَ اُمَّهُ فَانْطَلَقَتْ بِهِ. (المحلى)
“Dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: “Umar menyuruh kepada seorang anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih ibunya, lalu ibunya membawa dia.” (Al-Muhalla)
Yang dimaksud Umar dalam hadis tersebut adalah Umar bin Khattab, sahabat nabi saw. Perbuatan yang disandarkan kepada sahabat sebagaimana hadis tersebut dinamakan hadis mauquf.
Contoh takrir:
عَنِ الزُّهْرِيِّ اَنَّ عَاتِكَةَ بِنْتَ زَيْدِبْنِ عَمْرِوبْنِ نُفَيْلٍ كَانَتْ تَحْتَ عُمَرَابْنِ الْخَطَّابِ وَكَانَتْ تَشْهَدُالصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ فَكَانَ عُمَرُ يَقُوْلُ لَهَا: وَاللهِ اَنَّكِ لَتَعْلَمِيْنَ مَا اُحِبُّ هَذَا. فَقَالَتْ: وَاللهِ لاَاَنْتَهِي حَتَّى تَنْهَانِي. فَقَالَ عُمَرُ: فَاِنِّي لاَاَنْهَاكِ. (المحلى)
“Dari Zuhri bahwa Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail menjadi hamba Umar bin Khattab. Adalah Atikah pernah turut shalat dalam masjid. Maka Umar berkata kepadanya, “Demi Allah engkau sudah tahu bahwa aku tidak suka perbuatan ini.” Atikah berkata, “Demi Allah aku tidak mau berhenti sebelum engkau melarang aku.” Akhirnya Umar berkata, “Aku tidak mau melarangmu.” (Al- Muhalla)
Umar bin Khattab adalah seorang sahabat Nabi saw. Dalam riwayat tersebut menunjukkan bahwa Umar membenarkan perbuatan Atikah, yakni shalat di masjid.
Hadis mauquf dapat disifati hadis shahih atau hasan tetapi tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, tetapi boleh dijadikan sebagai penguat dalam beramal karena sahabat dalam hal ini hanya berkata atau berbuat yang dibenarkan oleh Rasulullah saw. Pada prinsipnya hadis mauquf itu tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali ada qarinah yang menunjukkan (yang menjadikan) marfu.
D. Hadis Maqthu’
1. Pengertian
Maqthu’ artinya yang diputus atau terputus, dipotong atau terpotong. Sedangkan secara terminologi hadis maqthu’ adalah perkataan, perbuatan atau takrir yang disandarkan kepada tabi’in atau orang yang di bawahnya. Dalam definisi lain dinyatakan hadis maqthu’ adalah:
ما جاء عن تابعيّ من قوله او فعله موقوفاعليه سواءاتّصل سنده أملا
“perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta dimauqufkan padanya, baik sandanya bersambung maupun tidak.”
Asy-Syafi’i dan ath-Thabarani menggunakan istilah maqthu untuk munqathi. Tetapi sebenarnya ditinjau dari segi istilah, memang kedua-duanya mempunyai perbedaan. Sebab suatu hadis dikatakan dengan munqathi itu dalam lapangan pembahasan sanad, yakni sanadnya tidak muttashil. Sedang untuk hadis dikatakan maqthu itu dalam lapangan pembahasan matan, yakni matannya tidak dinisbatkan kepada Rasulullah saw atau sahabat r.a.
Apabila para muhaddisin mengatakan: “Ini hadis maqthu”, maksudnya adalah hadis (khabar) yang disandarkan kepada tabi’in, baik perbuatan maupun perkataan, baik muttashil maupun munqathi.
Maqthu’ ini sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil agama, karena bukan perkataan, perbuatan atau takrir Nabi saw. Bahkan ada ulama yang tidak menggolongkannya ke dalam kategori hadis.
2. Contoh
Hadis maqthu juga dapat berupa perkataan, perbuatan dan takrir tabi’in.
Contoh perkataan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ سَعِيْدٍبْنِ اَبِي هِنْدٍ قَالَ: قُلْتُ لِسَعِيْدِبْنِ اْلمُسَيِّبِ: اِنَّ فُلاَنًااَعْطَسَ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَشَمَّتَهُ فُلاَنٌ. قَالَ: مُرْهُ فَلاَ يَعُوْدَنَّ. (الاثار)
“Dari Abdillah bin Said bin Abi Hindin, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Musayyib: bahwasanya si Fulan bersin, padahal imam sedang berkhutbah, lalu orang lain mengucapkan “yarhamukallah” (boleh yang demikian)? Jawab Sa’id bin Musayyib: “Perintahlah kepadanya supaya jangan sekali-kali ia ulangi!” (Al- Atsar)
Sa’id bin Musayyib adalah seorang tabi’in. Maka riwayat ini dinamakan maqthu’.
Contoh perbuatan:
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: كَانَ سَعِيْدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ يُصَلِّي بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ. (المحلى)
“Dari Qatadah, ia berkata: “adalah Sa’id bin Musayyib pernah shalat dua reka’at sesudah Ashar.”
Contoh takrir:
عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ قَالَ: كَانَ يَؤُمُّنَا فِي مَسْجِدِنَاهَذَا عَبْدٌفَكَانَ شُرَيْحٌ يُصَلِّي فِيْهِ. (المحلى)
“Dari Hakam bin Utaibah, ia berkata: adalah hamba mengimami kami dalam masjid itu, sedang Syuraih (juga) shalat di situ. (Al-Muhalla)
Syuraih adalah seorang tabi’i. Riwayat ini menunjukkan bahwa Syuraih membenarkan hamba jadi imam shalat.
1. Pengertian
Kata quds secara etimologi berarti suci, menyucikan Allah swt, atau yang disandarkan kepada kesucian. Sedangkan dalam terminologi ilmu hadis, hadis qudsi adalah hadis yang oleh Rasulullah saw disandarkan kepada Allah swt. Maksudnya Rasulullah saw meriwayatkan bahwa itu kalam Allah swt. Atau dengan kata lain, hadis qudsi adalah hadis yang maknanya dari Allah swt tetapi redaksinya berasal dari nabi Muhammad saw, dengan perantaraan ilham atau mimpian. Maka rasul menjadi rawi kalam Allah swt ini dari lafadz beliau sendiri.
Dalam definisi lain dijelaskan hadis qudsi adalah hadis yang dalam matannya ada omongan yang disandarkan kepada Allah swt. Hadis qudsi sama dengan hadis-hadis yang lain tentang keadaan sanad dan rawi-rawinya, ada yang shahih, hasan dan juga ada yang derajat sanadnya dhaif.
Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah saw dengan disandarkan kepada Allah swt, dengan mengatakan, ”Rasulullah saw mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya”, atau ia mengatakan, ”Rasulullah saw mengatakan Allah swt telah berfirman atau berfirman Allah swt.”
Hadis qudsi disebut juga hadis illahi, atau hadis rabbani. Menurut penelitian, hadis qudsi ini berjumlah kurang lebih 833 buah hadis yang dikategorikan dalam shahih, hasan, atau dhaif.
2. Contoh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (البخريّ ومسلم)
“Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda, telah berfirman Allah ‘azza wa Jalla, “Berdermalah, niscaya Aku akan balas derma atasmu” (Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut dari Nabi saw, tetapi matannya bersifat firman Allah atau disandarkan kepada Allah swt. Oleh karenaya, hadis tersebut dinamakan hadis qudsi.
Hadis tersebut sanad dan matannya shahih, karena rawi-rawinya tidak ada yang lemah, dan isinya tidak bertentangan dengan keterangan yang lain.
B. Hadis Marfu’
1. Pengertian
Marfu’ artinya yang diangkat, yang dimajukan, yang diambil, yang dirangkaikan, dan yang disampaikan. Dalam terminologi ilmu hadis, marfu’ artinya sabda, perbuatan, takrir, atau sifat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw.
Dalam definisi lain dinyatakan hadis marfu’ adalah adalah hadis yang khusus disandarkan kepada Nabi saw berupa perkataan, perbuatan atau takrir beliau; baik yang menyandarkannya sahabat, tabi’in atau yang lain; baik sanad hadis itu bersambung atau terputus.
Menurut definisi yang kedua tersebut dapat dipahami bahwa hadis marfu itu ada yang sanadnya bersambung, ada pula yang terputus. Dalam hadis marfu ini tidak dipersoalkan apakah ia memiliki sanad dan matan yang baik atau sebaliknya. Jika sanadnya bersambung, dapat dinamakan hadis shahih atau hasan, berdasarkan derajat kedhabitan dan keadilan rawi. Jika sanadnya terputus, hadis tersebut disebut hadis dhaif mengikuti macam-macam putusnya rawi.
Hadis marfu’ ada dua macam; tashrihah dan hukman:
a. Tashrihah, dengan terang. Maksudnya adalah hadis yang isinya terang-terangan menunjukkan marfu’. Yang terang atau jelas seperti ini juga disebut juga marfu’ hakiki.
b. Hukman, pada hukum. Maksudnya adalah hadis yang isinya tidak terang menunjukkan marfu tetapi dihukumi marfu’ karena bersandar kepada beberapa tanda.
Oleh karena unsur hadis itu dapat berupa perkataan, perbuatan, maupun takrir Nabi, maka apa yang disandarkan kepada Nabi itupun dapat diklasifikasikan menjadi marfu’ qauli, marfu’ fi’li dan marfu’ takriri. Dari ketiga macam hadis marfu tersebut ada yang jelas – dengan mudah dikenal – rafanya, dan adapula yang tidak jelas rafanya.
2. Contoh-contoh Hadis Marfu’
a. Marfu’ Qauli Hakiki
Ialah apa yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi tentang sabdanya, bukan perbuatannya atau iqrarnya, yang dikatakan dengan tegas bahwa nabi bersabda. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan lafadz qauliyah:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول …… كذا
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ……… begini”
Contohnya seperti hadis nabi:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً (متفق عليه)
“Warta dari Ibn Umar r a, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Shalat jama’ah itu lebih afdhal dua puluh tujuh tingkat dari pada shalat sendirian” ( HR Bukhari dan Muslim)
b. Marfu’ Qauli Hukmi
Ialah hadis marfu yang tidak tegas penyandaran sahabat terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantaran qarinah (tanda) yang lain, bahwa apa yang disandarkan sahabat itu berasal dari sabda nabi. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan kalimat :
أمرنا بكذا ……. نهينا عن كذا
“Aku diperintah begini…., aku dicegah begitu……”
Contohnya :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ اْلأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ (متفق عليه)
“Bilal r.a. diperintah menggenapknan adzan dan mengganjilkan iqamah” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Pada contoh di atas hadis tersebut dihukumkan marfu’ dan karenanya hadis yang demikian itu dapat dibuat hujjah. Sebab pada hakikatnya si pemberi perintah iu tidak lain kecuali Nabi saw.
c. Marfu’ Fi’li Hakiki
Adalah apabila pemberitaan sahabat itu dengan tegas menjelaskan perbuatan Rasulullah saw.
Contohnya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلاَةِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ (البخاري)
“Warta dari ‘Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendo’a pada waktu shalat, ujarnya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang” (HR Bukhari)
d. Marfu’ Fi’li Hukmi
Ialah perbuatan sahabat yang dilakukan pada zaman Rasulullah saw dengan mengetahui atau mendapat bayangan perbuatan tersebut dari beliau saw.
Contoh:
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَأْكُلُ لُحُومَ الْخَيْلِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (النسائي)
“Jabir r.a. berkata : Konon kami makan daging Kuda pada waktu Rasulullah saw masih hidup” (an-Nasai)
e. Marfu’ Takriri Hakiki
Ialah tindakan sahabat di hadapan Rasulullah dengan tiada memperoleh reaksi, baik reaksi itu positif maupun negatif dari beliau saw.
Contoh:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قال: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَكَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. (مسلم)
“Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: kami pernah shalat dua rekaat sesudah terbenam matahari, sedang nabi melihat kami, tetapi beliau tidak memerintah dan tidak pula melarang kami.” (Muslim)
f. Marfu’ Takriri Hukmi
Ialah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina, atau minas Sunnati.
Contoh:
عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ لاَ تُلَبِّسُوا عَلَيْنَا سُنَّةَ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أبوداود)
“Dari Amr bin al-‘Ash berkata (kepada ummul walad): “Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah nabi kami.” (Abu Dawud)
C. Hadis Mauquf
1. Pengertian
Secara etimologi mauquf artinya yang terhenti. Sedang secara terminologi hadis mauquf adalah perkataan, perbuatan, atau takrir yang disandarkan kepada sahabat nabi saw.
Dalam definisi lain dijelaskan bahwa hadis mauquf adalah:
ما قصر على الصحابىّ قولا او فعلا متّصلا كان او منقطعا
“Apa-apa yang disandarkan sampai kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung maupun terputus”
2. Contoh-contoh Hadis Mauquf
Dari definisi tentang hadis mauquf tersebut, klasifikasi hadis dapat berupa perkataan, perbuatan atau takrir. Untuk lebih dapat membantu pemahaman kita tentang hadis mauquf, berikut contoh-contohnya.
Contoh perkataan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: لاَ يُقَلِّدَنَّ اَحَدُكُمْ دِيْنَهُ رَجُلاً، فَاِنْ اَمَنَ اَمَنَ، وَاِنْ كَفَرَكَفَرَ...(رواه ابونعيم)
“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Janganlah hendaknya seseorang dari kamu taqlid agamanya dari orang, karena kalau orang ini beriman, ia juga turut beriman; tetapi kalau orang itu kufur, iapun ikut kufur.” (HR. Abu Nu’aim)
Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Nabi saw. Riwayat di atas jelas menunjukkan perkataan Abdullah bin Mas’ud, karenanya hadis yang seperti ini dinamakan hadis mauquf.
Contoh perbuatan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: خَيَّرَ عُمَرُ غُلاَمًابَيْنَ اَبِيْهِ وَاُمِّهِ فَاخْتَارَ اُمَّهُ فَانْطَلَقَتْ بِهِ. (المحلى)
“Dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: “Umar menyuruh kepada seorang anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih ibunya, lalu ibunya membawa dia.” (Al-Muhalla)
Yang dimaksud Umar dalam hadis tersebut adalah Umar bin Khattab, sahabat nabi saw. Perbuatan yang disandarkan kepada sahabat sebagaimana hadis tersebut dinamakan hadis mauquf.
Contoh takrir:
عَنِ الزُّهْرِيِّ اَنَّ عَاتِكَةَ بِنْتَ زَيْدِبْنِ عَمْرِوبْنِ نُفَيْلٍ كَانَتْ تَحْتَ عُمَرَابْنِ الْخَطَّابِ وَكَانَتْ تَشْهَدُالصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ فَكَانَ عُمَرُ يَقُوْلُ لَهَا: وَاللهِ اَنَّكِ لَتَعْلَمِيْنَ مَا اُحِبُّ هَذَا. فَقَالَتْ: وَاللهِ لاَاَنْتَهِي حَتَّى تَنْهَانِي. فَقَالَ عُمَرُ: فَاِنِّي لاَاَنْهَاكِ. (المحلى)
“Dari Zuhri bahwa Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail menjadi hamba Umar bin Khattab. Adalah Atikah pernah turut shalat dalam masjid. Maka Umar berkata kepadanya, “Demi Allah engkau sudah tahu bahwa aku tidak suka perbuatan ini.” Atikah berkata, “Demi Allah aku tidak mau berhenti sebelum engkau melarang aku.” Akhirnya Umar berkata, “Aku tidak mau melarangmu.” (Al- Muhalla)
Umar bin Khattab adalah seorang sahabat Nabi saw. Dalam riwayat tersebut menunjukkan bahwa Umar membenarkan perbuatan Atikah, yakni shalat di masjid.
Hadis mauquf dapat disifati hadis shahih atau hasan tetapi tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, tetapi boleh dijadikan sebagai penguat dalam beramal karena sahabat dalam hal ini hanya berkata atau berbuat yang dibenarkan oleh Rasulullah saw. Pada prinsipnya hadis mauquf itu tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali ada qarinah yang menunjukkan (yang menjadikan) marfu.
D. Hadis Maqthu’
1. Pengertian
Maqthu’ artinya yang diputus atau terputus, dipotong atau terpotong. Sedangkan secara terminologi hadis maqthu’ adalah perkataan, perbuatan atau takrir yang disandarkan kepada tabi’in atau orang yang di bawahnya. Dalam definisi lain dinyatakan hadis maqthu’ adalah:
ما جاء عن تابعيّ من قوله او فعله موقوفاعليه سواءاتّصل سنده أملا
“perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta dimauqufkan padanya, baik sandanya bersambung maupun tidak.”
Asy-Syafi’i dan ath-Thabarani menggunakan istilah maqthu untuk munqathi. Tetapi sebenarnya ditinjau dari segi istilah, memang kedua-duanya mempunyai perbedaan. Sebab suatu hadis dikatakan dengan munqathi itu dalam lapangan pembahasan sanad, yakni sanadnya tidak muttashil. Sedang untuk hadis dikatakan maqthu itu dalam lapangan pembahasan matan, yakni matannya tidak dinisbatkan kepada Rasulullah saw atau sahabat r.a.
Apabila para muhaddisin mengatakan: “Ini hadis maqthu”, maksudnya adalah hadis (khabar) yang disandarkan kepada tabi’in, baik perbuatan maupun perkataan, baik muttashil maupun munqathi.
Maqthu’ ini sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil agama, karena bukan perkataan, perbuatan atau takrir Nabi saw. Bahkan ada ulama yang tidak menggolongkannya ke dalam kategori hadis.
2. Contoh
Hadis maqthu juga dapat berupa perkataan, perbuatan dan takrir tabi’in.
Contoh perkataan:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ سَعِيْدٍبْنِ اَبِي هِنْدٍ قَالَ: قُلْتُ لِسَعِيْدِبْنِ اْلمُسَيِّبِ: اِنَّ فُلاَنًااَعْطَسَ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَشَمَّتَهُ فُلاَنٌ. قَالَ: مُرْهُ فَلاَ يَعُوْدَنَّ. (الاثار)
“Dari Abdillah bin Said bin Abi Hindin, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Musayyib: bahwasanya si Fulan bersin, padahal imam sedang berkhutbah, lalu orang lain mengucapkan “yarhamukallah” (boleh yang demikian)? Jawab Sa’id bin Musayyib: “Perintahlah kepadanya supaya jangan sekali-kali ia ulangi!” (Al- Atsar)
Sa’id bin Musayyib adalah seorang tabi’in. Maka riwayat ini dinamakan maqthu’.
Contoh perbuatan:
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: كَانَ سَعِيْدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ يُصَلِّي بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ. (المحلى)
“Dari Qatadah, ia berkata: “adalah Sa’id bin Musayyib pernah shalat dua reka’at sesudah Ashar.”
Contoh takrir:
عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ قَالَ: كَانَ يَؤُمُّنَا فِي مَسْجِدِنَاهَذَا عَبْدٌفَكَانَ شُرَيْحٌ يُصَلِّي فِيْهِ. (المحلى)
“Dari Hakam bin Utaibah, ia berkata: adalah hamba mengimami kami dalam masjid itu, sedang Syuraih (juga) shalat di situ. (Al-Muhalla)
Syuraih adalah seorang tabi’i. Riwayat ini menunjukkan bahwa Syuraih membenarkan hamba jadi imam shalat.
terimakasih banyak mbak, ilmunya sangat bermanfaat. saya Yusuf, meminta izin untuk share artikel ini.
BalasHapus